Kenapa Kita Sulit Konsisten Membaca Buku? Ini 7 Penyebabnya

RanahBaca.com – Pernah membeli buku dengan niat, “Bulan ini harus selesai membaca beberapa buku”, tetapi beberapa hari kemudian buku tersebut justru tergeletak di meja?

Anda tidak sendirian.

Banyak orang sebenarnya ingin membaca lebih banyak. Mereka membeli buku, menyimpan rekomendasi dari media sosial, membuat daftar bacaan, bahkan menetapkan target jumlah buku dalam setahun. Namun, ketika kehidupan sehari-hari kembali sibuk, kebiasaan membaca ikut menghilang.

Pertanyaannya:

Kenapa kita sulit konsisten membaca buku, padahal kita tahu membaca itu penting?

Masalahnya belum tentu karena kita malas.

Sering kali, masalahnya ada pada cara kita membangun kebiasaan membaca.

Survei GoodStats tentang preferensi membaca di Indonesia pada 2025 menemukan bahwa hanya 20,7% responden yang membaca buku setiap hari. Sebanyak 22,3% membaca setidaknya seminggu sekali, 24,6% sebulan sekali, 17% hanya sesekali, dan 15,4% mengaku jarang membaca buku. Survei tersebut melibatkan 1.000 responden di Indonesia pada 20 Januari–10 Februari 2025.

Artinya, konsistensi membaca memang menjadi tantangan yang nyata.

Lalu, Apa Penyebab Sulit Konsisten Membaca?

1. Kita Membuat Target Membaca yang Terlalu Tinggi

Salah satu kesalahan paling umum adalah menetapkan target berdasarkan hasil yang ingin dicapai, bukan perilaku yang sanggup dilakukan secara konsisten.

Misalnya:

“Saya harus membaca 50 halaman setiap hari.”

Pada hari pertama mungkin terasa mudah.

Hari kedua masih bisa.

Tetapi ketika pekerjaan menumpuk, kuliah padat, perjalanan melelahkan, atau ada urusan keluarga, target 50 halaman mulai terasa seperti kewajiban tambahan.

Akhirnya muncul pola:

Target terlalu tinggi → gagal memenuhi target → merasa bersalah → berhenti membaca.

Padahal, membaca lima halaman secara konsisten jauh lebih berguna untuk membangun kebiasaan daripada membaca 50 halaman hanya sekali lalu berhenti selama seminggu.

Penelitian Phillippa Lally dan koleganya tentang pembentukan kebiasaan menunjukkan bahwa pengulangan perilaku dalam konteks yang konsisten dapat meningkatkan otomatisasi, tetapi kecepatannya sangat berbeda antar individu. Dalam penelitian tersebut, waktu menuju tingkat otomatisasi tertentu bervariasi secara luas, sehingga tidak tepat menganggap kebiasaan baru akan terbentuk dalam jumlah hari yang sama untuk semua orang.

Apa yang bisa dilakukan?

Turunkan ambang untuk memulai.

Daripada:

“Saya harus membaca 30 halaman.”

coba:

“Saya akan membaca 5 halaman setelah makan malam.”

Jika ternyata Anda ingin melanjutkan, silakan baca lebih banyak.

Target minimal berfungsi sebagai pintu masuk, bukan batas maksimal.

2. Kita Mengandalkan Motivasi, Bukan Sistem

Pernah mengalami fase ketika tiba-tiba sangat ingin membaca?

Anda membeli buku baru, membuat daftar bacaan, menyusun target tahunan, lalu membaca dengan penuh semangat.

Namun beberapa minggu kemudian motivasinya hilang.

Ini normal.

Motivasi bersifat fluktuatif. Karena itu, mengandalkan motivasi saja bukan strategi yang kuat untuk membangun kebiasaan.

Yang lebih berguna adalah membuat sistem yang mengurangi kebutuhan untuk mengambil keputusan setiap kali ingin membaca.

Salah satu konsep yang relevan adalah implementation intention atau niat implementasi: menentukan sebelumnya kapan, di mana, dan bagaimana sebuah perilaku akan dilakukan.

Meta-analisis Gollwitzer dan Sheeran terhadap 94 pengujian menemukan bahwa membuat rencana spesifik berbentuk if–then dapat membantu pencapaian tujuan. Prinsip sederhananya adalah:

Jika X terjadi, maka saya akan melakukan Y.

Contohnya:

“Jika saya sudah selesai sarapan, saya akan membaca 5 halaman.”

atau:

“Jika saya sudah naik kereta, saya akan membaca selama 10 menit.”

Rencana seperti ini lebih konkret daripada sekadar:

“Saya ingin lebih rajin membaca.”

Meta-analisis yang lebih baru terhadap 642 pengujian juga menemukan bahwa implementation intentions efektif pada berbagai hasil kognitif, afektif, dan perilaku, dengan efek yang cenderung lebih kuat ketika rencana menggunakan format if–then, individu memiliki motivasi yang cukup, dan rencana tersebut dilatih atau diulang.

3. Kita Memilih Buku yang Tidak Sesuai dengan Diri Sendiri

Ini penyebab yang sering tidak disadari.

Seseorang membeli buku karena:

  • sedang viral;
  • direkomendasikan influencer;
  • mendapat rating tinggi;
  • dianggap “wajib dibaca”;
  • sampulnya menarik;
  • semua orang sedang membicarakannya.

Lalu buku tersebut tidak pernah selesai.

Bukan berarti bukunya buruk.

Bisa jadi bukunya memang tidak cocok untuk Anda saat ini.

Riset mengenai motivasi membaca menunjukkan bahwa motivasi bukan sesuatu yang sederhana. Faktor seperti minat, persepsi kemampuan, otonomi, dan konteks turut berhubungan dengan keterlibatan seseorang dalam membaca. Dalam literatur tentang reading motivation, pendekatan seperti Self-Determination Theory, Interest Theory, dan Reading Engagement Model menjadi beberapa kerangka yang digunakan untuk memahami keterlibatan membaca.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Buku ini bagus atau tidak?”

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

“Apakah buku ini tepat untuk saya sekarang?”

Jika Anda sedang ingin membaca sesuatu yang ringan, jangan memaksakan buku akademik yang sangat padat.

Jika sedang ingin memahami psikologi, mungkin novel bukan pilihan pertama.

Jika sedang membutuhkan hiburan, Anda tidak harus memilih buku pengembangan diri.

Buku yang tepat dapat membuat proses membaca terasa jauh lebih mudah.

4. Kita Tidak Menyediakan Waktu Khusus untuk Membaca

“Saya tidak punya waktu membaca.”

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sering kali masalah sebenarnya adalah tidak ada waktu yang secara sengaja dialokasikan untuk membaca.

Dalam survei GoodStats 2025, keterbatasan waktu disebut sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan rendahnya kebiasaan membaca masyarakat Indonesia. Di sisi lain, media sosial menjadi sumber utama informasi tentang buku baru bagi 62,5% responden.

Ini menciptakan paradoks.

Kita mungkin tidak merasa punya waktu membaca buku, tetapi tetap menemukan waktu untuk:

  • membuka media sosial;
  • menonton video pendek;
  • membaca komentar;
  • mengecek notifikasi;
  • berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain.

Masalahnya bukan semata-mata berapa banyak waktu yang kita miliki.

Masalahnya adalah ke mana perhatian kita diarahkan.

Coba gunakan waktu yang sudah tersedia

Tidak perlu mencari satu jam kosong.

Cari slot kecil yang sudah ada:

10 menit setelah sarapan.

15 menit sebelum tidur.

10 menit saat perjalanan.

15 menit saat menunggu.

Jika dilakukan secara konsisten, waktu kecil tersebut dapat menjadi ritual membaca.

Penelitian tentang pembentukan kebiasaan juga mendukung pentingnya pengulangan dalam konteks yang konsisten untuk meningkatkan otomatisasi perilaku.

5. Lingkungan Kita Terlalu Mudah Mengalihkan Perhatian

Bayangkan Anda sedang membaca buku.

Lima menit kemudian:

ting!

Notifikasi masuk.

Anda mengambil ponsel.

Awalnya hanya ingin membaca pesan.

Kemudian membuka Instagram.

Melihat satu video.

Lanjut video berikutnya.

Tanpa terasa, 20 menit berlalu.

Buku masih terbuka pada halaman yang sama.

Ini bukan berarti teknologi adalah musuh membaca.

Masalahnya adalah perhatian manusia memiliki batas.

Penelitian tentang pemrosesan berbagai dokumen digital menemukan bahwa sustained attention berhubungan dengan kemampuan memahami informasi dari beberapa teks digital. Studi tersebut juga menemukan hubungan positif antara kebiasaan membaca buku dan beberapa aspek pemahaman ketika peserta harus memproses banyak dokumen digital.

Karena itu, jika ingin membaca dengan lebih konsisten, jangan hanya memperbaiki niat.

Perbaiki juga lingkungan.

Coba lakukan:

  • aktifkan mode jangan ganggu;
  • jauhkan ponsel dari jangkauan;
  • gunakan bookmark agar mudah melanjutkan;
  • pilih tempat membaca yang relatif tenang;
  • siapkan buku sebelum waktu membaca tiba;
  • matikan notifikasi yang tidak penting.

Prinsipnya sederhana:

Buat membaca mudah dilakukan dan distraksi lebih sulit dilakukan.

6. Kita Menganggap Membaca Harus Selalu Serius dan Produktif

Ini adalah jebakan lain.

Sebagian orang merasa membaca harus menghasilkan sesuatu.

Setelah membaca harus:

  • mendapat ilmu;
  • membuat catatan;
  • menandai kutipan;
  • menyelesaikan sejumlah halaman;
  • membuat rangkuman;
  • menerapkan isi buku.

Akibatnya, membaca berubah dari aktivitas yang menyenangkan menjadi pekerjaan rumah.

Padahal, membaca untuk kesenangan juga memiliki nilai.

Tinjauan penelitian mengenai reading for pleasure menunjukkan adanya berbagai potensi manfaat yang berkaitan dengan pembelajaran dan kesejahteraan, meskipun literaturnya juga memiliki kompleksitas dan keterbatasan metodologis yang perlu diperhatikan.

Karena itu, tidak semua buku harus dibaca untuk “menjadi lebih produktif”.

Anda boleh membaca novel hanya karena ceritanya menarik.

Anda boleh membaca esai karena ingin melihat perspektif orang lain.

Anda boleh membaca buku sejarah karena penasaran.

Anda bahkan boleh membaca beberapa halaman tanpa membuat satu pun catatan.

Tidak semua aktivitas membaca harus menghasilkan output yang terukur.

7. Kita Menganggap Satu Hari Terlewat Berarti Gagal

Ini mungkin penyebab yang paling merusak konsistensi.

Senin:

Baca.

Selasa:

Baca.

Rabu:

Baca.

Kamis:

Tidak sempat.

Lalu muncul pikiran:

“Wah, sudah gagal.”

Akhirnya Jumat tidak membaca.

Sabtu tidak membaca.

Minggu juga tidak.

Satu hari terlewat berubah menjadi satu minggu.

Padahal, penelitian Lally dan koleganya menunjukkan bahwa melewatkan satu kesempatan melakukan perilaku tidak secara material menghancurkan proses pembentukan kebiasaan. Yang lebih penting adalah pola pengulangan secara keseluruhan dalam konteks yang konsisten.

Jadi:

Tidak membaca hari ini bukan berarti Anda berhenti menjadi pembaca.

Besok tinggal kembali membaca.

Tidak perlu menebus dengan membaca 100 halaman.

Tidak perlu menghukum diri sendiri.

Cukup kembali ke rutinitas.

Jadi, Bagaimana Cara Konsisten Membaca Buku?

Jika tujuh masalah di atas dirangkum, solusinya bukan:

“Harus lebih disiplin.”

Strateginya lebih sederhana:

1. Turunkan target

Mulai dari 5–10 halaman atau 10–15 menit.

2. Tentukan pemicu

Contoh:

Setelah sarapan → membaca.

3. Pilih buku yang sesuai

Jangan membaca hanya karena buku tersebut sedang populer.

4. Siapkan waktunya

Jadikan membaca bagian dari jadwal, bukan aktivitas yang dilakukan “kalau sempat”.

5. Kurangi distraksi

Jauhkan ponsel dan matikan notifikasi ketika membaca.

6. Izinkan diri membaca untuk bersenang-senang

Tidak semua buku harus menghasilkan produktivitas.

7. Jangan gunakan prinsip “sempurna atau tidak sama sekali”

Terlewat satu hari? Lanjutkan lagi besok.

Gunakan Formula 10 Menit untuk Memulai

Jika saat ini Anda benar-benar kesulitan konsisten membaca, jangan langsung membuat target 30 buku setahun.

Coba eksperimen sederhana selama dua minggu.

Setiap hari:

10 menit membaca.

Pada waktu yang sama.

Di tempat yang sama.

Dengan buku yang memang Anda minati.

Misalnya:

21.00 → ponsel disimpan → buka buku → baca 10 menit.

Jika setelah 10 menit Anda ingin berhenti, berhentilah.

Jika masih ingin membaca, lanjutkan.

Tujuan eksperimen ini bukan menyelesaikan banyak buku.

Tujuannya adalah membuat otak mengenali:

“Pada waktu ini, saya membaca.”

Penelitian pembentukan kebiasaan menunjukkan bahwa pengulangan perilaku dalam konteks yang konsisten dapat meningkatkan otomatisasi, meskipun waktu pembentukan kebiasaan berbeda-beda secara signifikan pada setiap orang.

Bagaimana Kalau Tetap Tidak Suka Membaca?

Mungkin masalahnya bukan Anda.

Mungkin Anda belum menemukan format atau jenis bacaan yang tepat.

Coba eksplorasi:

Novel jika Anda menyukai cerita.

Biografi jika tertarik pada kehidupan tokoh.

Sejarah jika ingin memahami masa lalu.

Psikologi jika ingin memahami manusia.

Self-improvement jika memiliki tujuan pengembangan diri.

Esai jika menyukai gagasan dan refleksi.

Buku bergambar jika ingin membaca bersama anak.

Buku populer jika belum terbiasa membaca literatur yang berat.

Tidak ada satu genre yang wajib dibaca semua orang.

Dalam survei GoodStats 2025, buku pengembangan diri menjadi genre yang paling banyak diminati responden dengan angka 65%, disusul nonfiksi, pendidikan, dan fiksi. Namun, preferensi tersebut tetap menunjukkan bahwa pembaca memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.

Jadi, jangan mencari buku terbaik untuk semua orang.

Cari:

buku yang tepat untuk Anda.

Konsisten Membaca Tidak Harus Berarti Membaca Setiap Hari

Ini juga penting.

Kata “konsisten” sering disalahartikan sebagai “tidak boleh pernah bolong”.

Padahal konsistensi lebih dekat dengan kemampuan kembali melakukan perilaku secara berulang.

Jika Anda membaca:

  • Senin;
  • Selasa;
  • Kamis;
  • Sabtu;
  • Minggu;

itu tetap lebih konsisten daripada membaca tiga jam pada satu hari kemudian tidak membaca sama sekali selama sebulan.

Jangan mengukur keberhasilan hanya dari jumlah buku yang selesai.

Perhatikan juga apakah Anda semakin mudah:

  • mengambil buku;
  • memulai membaca;
  • kembali membaca setelah berhenti;
  • memilih bacaan;
  • menikmati proses membaca.

Itulah tanda bahwa kebiasaan mulai terbentuk.

Pada Akhirnya, Masalahnya Bukan Selalu Kemalasan

Sulit konsisten membaca tidak otomatis berarti Anda malas.

Bisa jadi:

target Anda terlalu tinggi.

Bisa jadi:

jadwal membaca tidak jelas.

Bisa jadi:

buku yang dipilih tidak sesuai minat.

Bisa jadi:

lingkungan terlalu penuh distraksi.

Atau mungkin:

Anda terlalu keras kepada diri sendiri ketika melewatkan satu hari.

Membaca adalah kebiasaan yang dibangun melalui pengulangan, bukan ujian yang harus selalu mendapatkan nilai sempurna.

Mulailah kecil.

Pilih buku yang membuat Anda penasaran.

Sediakan waktu yang realistis.

Jauhkan gangguan.

Dan ketika suatu hari Anda tidak sempat membaca, cukup kembali lagi ke halaman terakhir yang Anda baca.

Tidak perlu memulai dari awal.

Tidak perlu menunggu Senin.

Tidak perlu menunggu tahun baru.

Buka buku hari ini. Baca satu halaman.

Karena mungkin yang Anda perlukan bukan motivasi yang lebih besar.

Anda hanya perlu membuat langkah pertama terasa cukup mudah untuk dilakukan.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Kenapa saya sulit konsisten membaca buku?

Beberapa penyebab umum adalah target membaca yang terlalu tinggi, tidak memiliki waktu khusus, terlalu mengandalkan motivasi, memilih buku yang tidak sesuai minat, banyak distraksi digital, menganggap membaca harus selalu produktif, serta berhenti total setelah melewatkan satu hari.

Berapa halaman buku yang sebaiknya dibaca setiap hari?

Tidak ada jumlah halaman yang berlaku untuk semua orang. Jika baru membangun kebiasaan, 5–10 halaman atau sekitar 10–15 menit dapat menjadi target awal yang realistis. Yang lebih penting adalah membangun pola yang dapat dipertahankan.

Bagaimana cara mulai rajin membaca buku?

Pilih buku yang sesuai minat, tentukan waktu membaca yang spesifik, mulai dengan target kecil, kurangi distraksi, dan ulangi dalam konteks yang sama. Jangan menetapkan target terlalu tinggi pada awalnya.

Apakah membaca harus dilakukan setiap hari?

Tidak harus. Membaca setiap hari dapat membantu membentuk rutinitas, tetapi konsistensi tidak berarti tidak pernah melewatkan satu hari. Jika terlewat, yang penting adalah kembali membaca dan mempertahankan pola dalam jangka panjang.

Bagaimana memilih buku agar tidak cepat bosan?

Mulailah dari topik yang memang Anda minati dan pilih tingkat kesulitan yang sesuai. Jangan memilih buku hanya karena sedang populer atau dianggap wajib dibaca. Buku yang tepat untuk orang lain belum tentu tepat untuk Anda.

Pos Sebelumnya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Membuka wawasan melalui buku-buku berkualitas.

Ranah Baca menghadirkan koleksi bacaan pilihan untuk mendukung budaya membaca, belajar, dan berbagi pengetahuan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Informasi

Cara Pemesanan

Metode Pembayaran

Pengiriman

FAQ

Alamat Kantor CV. Ranah Baca

Ranah Baca Jambi
Jl. Ibrahim, Gg. Budaya, RT 21, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, Jambi.
Telp. 0812-6996-3666
Buka: Senin-Jumat (08.00-16.00 WIB)

Ranah Baca Yogyakarta
Jl. Kaliurang, KM.8,5 (Seberang Depo Kreasi), Gang Belimbing, RT 01 RW 27, Dayu, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.
Telp. 0821-7667-0046
Buka: Senin-Jumat (08.00-16.00 WIB)

© 2026 CV Ranah Baca