Review Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Ketika Alasan untuk Hidup Bisa Sesederhana Semangkuk Mie Ayam

RanahBaca.com – Review Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna perlu kami sajikan untuk Anda. Setelah paripurna menyantap novel yang sebenarnya agak dark namun sukses dibalut dengan sangat halus oleh penulisnya. Baiklah, langsung saja…

Ada orang yang bertahan hidup karena keluarga.

Ada yang karena cita-cita.

Ada yang karena ingin melihat anaknya tumbuh besar.

Ada juga yang bertahan karena besok mau makan mie ayam.

Terdengar konyol?

Mungkin.

Tapi justru di situlah Brian Khrisna bermain.

Lewat novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Brian membawa kita masuk ke kepala Ale, seorang laki-laki berusia 37 tahun yang sudah sampai pada titik ketika hidup terasa seperti pekerjaan lembur yang tidak pernah selesai.

Tidak ada bonus.

Tidak ada promosi.

Bahkan mungkin tidak ada alasan untuk datang besok.

Dan ketika Ale akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, ada satu urusan kecil yang belum selesai:

Ia ingin makan mie ayam.

Masalahnya, bahkan untuk mati dengan tenang pun hidup masih sempat bercanda.

Bukan Tentang Mie Ayam

Kalau melihat judulnya, orang mungkin mengira novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati akan bercerita tentang kuliner.

Mungkin tentang mie ayam terenak.

Mungkin tentang abang-abang gerobakan yang punya resep rahasia turun-temurun.

Ternyata bukan.

Mie ayam di sini bukan sekadar makanan.

Ia menjadi semacam simbol kecil tentang alasan untuk menunda sesuatu.

Ale memang ingin mati.

Tetapi ia ingin makan mie ayam dulu.

Satu mangkuk saja.

Setelah itu selesai.

Sesederhana itu.

Namun justru dari keinginan yang sangat sederhana tersebut, perjalanan Ale berkembang menjadi cerita tentang depresi, perundungan, kesepian, keluarga, penerimaan diri, kehilangan, dan pertanyaan yang jauh lebih besar:

Kalau hidup sedang tidak baik-baik saja, sebenarnya apa yang membuat kita tetap bertahan?

Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna diterbitkan Grasindo pada 2025. Data katalog perpustakaan mencatat edisi dengan 226 halaman dan ISBN 978-602-05-3132-8.

Ale dan Hidup yang Tidak Pernah Terasa Ramah

Ale bukan tipe karakter yang sejak awal membuat kita berkata,

“Wah, protagonis yang keren.”

Justru sebaliknya.

Ia digambarkan sebagai seseorang yang sejak kecil mengalami perundungan, merasa tidak diterima, memiliki persoalan dengan keluarga, kesulitan bersosialisasi, dan kemudian didiagnosis mengalami depresi akut.

Ia tidak sempurna.

Ia tidak selalu bijaksana.

Ia bahkan sering terlihat menyebalkan.

Tetapi mungkin justru karena itulah Ale terasa manusiawi.

Sebab manusia yang sedang hancur biasanya tidak selalu terlihat seperti orang yang sedang hancur.

Kadang ia tetap pergi bekerja.

Tetap membalas chat.

Tetap makan.

Tetap tertawa kalau ada yang lucu.

Tetap bilang,

“Gue baik-baik aja.”

Padahal sebenarnya tidak.

Brian menarik persoalan yang cukup berat ini ke dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa ulasan pembaca menilai kekuatan novel justru berada pada pendekatannya yang tidak terasa seperti buku motivasi atau ceramah kesehatan mental.

Humor di Tengah Cerita yang Gelap

Ini mungkin salah satu hal yang membuat novel ini mudah dibaca.

Tema yang dibawa sebenarnya gelap.

Depresi.

Kesepian.

Bullying.

Keinginan mengakhiri hidup.

Kehilangan.

Tetapi cara Brian menyampaikannya tidak selalu muram.

Ada humor.

Ada absurditas.

Ada situasi yang membuat kita tertawa di tengah sesuatu yang sebenarnya menyakitkan.

Seperti ketika seseorang sedang berada di titik paling kacau dalam hidupnya, tetapi masalah yang muncul malah:

mie ayamnya tidak ada.

Lucu?

Iya.

Sedih?

Juga.

Dan mungkin memang begitu hidup.

Kadang kita menangis karena kehilangan sesuatu yang besar.

Kadang kita hampir menangis hanya karena warung langganan tutup.

Bedanya, kita biasanya hanya menceritakan bagian pertama.

Bahasa yang Terasa Seperti Obrolan

Salah satu kekuatan novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati adalah bahasanya yang relatif mudah dicerna.

Narasinya tidak terasa seperti sedang berusaha menunjukkan bahwa penulis tahu banyak kata sulit.

Sebaliknya, ia cenderung menggunakan bahasa yang dekat dengan percakapan sehari-hari.

Ada bahasa kasual.

Ada bahasa gaul.

Ada humor.

Ada kalimat reflektif.

Ada pula penggunaan metafora dan perbandingan untuk menggambarkan kondisi batin tokohnya. Kajian terhadap novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati menemukan penggunaan metafora dan simile, sementara penelitian lain secara khusus mengkaji gaya bahasa novel tersebut sebagai objek penelitian.

Hasilnya?

Novel ini terasa seperti seseorang sedang duduk di sebelah kita lalu bercerita:

“Gue juga nggak tahu hidup ini mau dibawa ke mana. Tapi ya sudah, makan dulu.”

Dan entah kenapa,

kalimat seperti itu kadang jauh lebih masuk akal daripada seribu kalimat motivasi.

Tapi Novel Ini Tidak Sempurna

Dan di sinilah review harus berhenti menjadi promosi.

Karena Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati juga punya bagian yang mungkin tidak cocok untuk semua pembaca.

Beberapa pembaca merasa perkembangan cerita setelah titik awalnya menjadi terlalu kebetulan atau terlalu didorong oleh peristiwa dramatis. Ada pula kritik terhadap karakter-karakter yang terkadang terasa seperti kendaraan untuk menyampaikan nasihat kehidupan.

Kritik lain menyasar cara novel menjelaskan kondisi Ale.

Sebagian pembaca merasa persoalan depresinya terlalu banyak disampaikan secara langsung, sehingga pengalaman psikologis Ale terkadang terasa lebih told daripada shown.

Ini penting.

Karena novel ini berbicara mengenai depresi dan suicidal ideation, pembaca mungkin berharap eksplorasi psikologisnya lebih dalam dan lebih kompleks.

Di satu sisi, pendekatan langsung membuat cerita mudah dipahami.

Di sisi lain, bagi pembaca yang menginginkan karakterisasi psikologis yang lebih subtil (halus), beberapa bagian mungkin terasa terlalu gamblang.

Lalu, Kenapa Mie Ayam?

Karena manusia sering kali bertahan bukan karena mempunyai jawaban besar.

Kita bertahan karena masih ada sesuatu yang ingin dilakukan.

Satu episode serial.

Satu buku yang belum selesai.

Satu tempat yang belum pernah dikunjungi.

Satu orang yang ingin ditemui.

Atau—

seporsi mie ayam.

Dan mungkin itu yang ingin dikatakan novel ini.

Bahwa alasan untuk hidup tidak selalu harus terdengar heroik.

Tidak harus:

“Aku ingin mengubah dunia.”

Kadang cukup:

“Besok gue mau makan mie ayam di tempat itu.”

Besok kemudian datang.

Lalu kita makan.

Setelah itu mungkin ada alasan lain.

Dan begitu seterusnya.

Yang Paling Menarik dari Novel Ini

Bagi saya, daya tarik terbesar Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati bukan pada pertanyaan apakah Ale akan mati atau tidak.

Tetapi pada pertanyaan:

Apa yang terjadi ketika seseorang yang sudah tidak ingin hidup justru dipaksa oleh keadaan untuk kembali mengalami kehidupan?

Perjalanan Ale mempertemukannya dengan orang-orang dan situasi yang perlahan mengubah cara pandangnya.

Bukan melalui satu pidato besar.

Bukan melalui satu kalimat sakti.

Tetapi melalui pertemuan-pertemuan kecil.

Dan bukankah hidup kita juga sering begitu?

Jarang ada satu kejadian yang langsung mengubah seluruh hidup.

Lebih sering:

satu percakapan.

Satu orang.

Satu makanan.

Satu lagu.

Satu buku.

Satu sore yang sebenarnya biasa saja.

Kemudian bertahun-tahun setelahnya kita sadar:

“Oh. Ternyata waktu itu gue sedang diselamatkan.”

Kesimpulan

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati adalah novel yang menggunakan sesuatu yang sangat sederhana untuk membicarakan sesuatu yang sangat rumit: keinginan untuk tetap hidup.

Brian Khrisna berhasil membuat isu seperti depresi, kesepian, penerimaan diri, dan pencarian makna hidup terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari melalui bahasa yang ringan, humor getir, serta situasi yang membumi.

Namun, pembaca yang mencari eksplorasi psikologis sangat mendalam mungkin akan menemukan beberapa bagian yang terasa terlalu langsung. Begitu pula pembaca yang kurang menyukai alur penuh kebetulan atau karakter yang sesekali terlalu berfungsi sebagai penyampai pesan.

Jadi, buku ini bukan novel yang sempurna.

Tapi mungkin memang bukan itu tujuannya.

Karena pada akhirnya, hidup juga tidak pernah benar-benar sempurna.

Kadang berantakan.

Kadang absurd.

Kadang menyebalkan.

Kadang kita ingin menyerah.

Lalu tiba-tiba mencium aroma mie ayam dari ujung gang.

Dan kita berpikir:

“Ya sudah. Besok saja.”

Mungkin besok memang belum tentu lebih baik.

Tapi setidaknya,

masih ada mie ayam.

Pos Sebelumnya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Membuka wawasan melalui buku-buku berkualitas.

Ranah Baca menghadirkan koleksi bacaan pilihan untuk mendukung budaya membaca, belajar, dan berbagi pengetahuan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Informasi

Cara Pemesanan

Metode Pembayaran

Pengiriman

FAQ

Alamat Kantor CV. Ranah Baca

Ranah Baca Jambi
Jl. Ibrahim, Gg. Budaya, RT 21, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, Jambi.
Telp. 0812-6996-3666
Buka: Senin-Jumat (08.00-16.00 WIB)

Ranah Baca Yogyakarta
Jl. Kaliurang, KM.8,5 (Seberang Depo Kreasi), Gang Belimbing, RT 01 RW 27, Dayu, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.
Telp. 0821-7667-0046
Buka: Senin-Jumat (08.00-16.00 WIB)

© 2026 CV Ranah Baca